oleh Dosen STAIN samarinda jurusan Dakwah yakni Ibu Ida Suryani Wijaya pada mata kuliah Hadits Komunikasi
1. Dapat memilih waktu dengan tepat
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالََ : كَانَ النَّبِيُّ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَخَوَّلنُاَ بِالْمَوْعِظَةِ فِي اْلأَيّاَّمِ , كَرَاهِيَةَ السَّامَةِ عَلَيْنَا
“ Nabi Muhammad SAW memilih waktu yang tepat untuk berkhutbah sehingga kami tidak merasa bosan ( Nabi tidak mengganggu kami dengan melibatkan kami dalam pembicaraan agama dan ilmu pengetahuan terus menerus sepanjang waktu “
2. Cara Nabi Berbicara
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالََ : كَانَ أَبوُ هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ وَيَقُولُ:………………………………… ........................................... إِنَّمَا كَانَ النَّبِيُّ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يُحَدِّثُ حَدِيْثًا لَْوْ عَدهُ ألعَادُّ لأَحْصَاهُ
“………. Abu Hurairah sedang menceritakan hadist Nabi saw dan berkata,……………………. ………………………….Apabila Nabi berbicara seseorang akan sanggup menghitung pembicaraan beliau (mencatat kata-kata beliau karena tidak cepat)
3. Keramahan Nabi
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اِمْرَأَةً كَانَ فيِ عَقْلِهَا شَيْءُ فَقَالَتْ : يَا رَسُولُ اللهِ, إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ : يَا أُمِّ فُلاَنٍ اُنْظُرِي أَيُّ السِّكَكِ شِئْتَ حَتَّى اَقْضِيَ لَكِ حَاجَتِكَ فَخَلاَ مَعَهَا فيِ بَعْضِ الطُّرْقِ حَتَّى فَرَغْتُ مِنْ حَاجَتِهَا
“ Seorang wanita tua pernah mempunyai suatu masalah pada akalnya, dia berkata : Wahai Rasulullah, saya punya suatu keperluan kepada engkau, sabda beliau wahai Ummu fulan, lihatlah di jalan mana yang kamu sukai agar aku dapat memenuhi hajatmu ? lalu beliau menemani wanita itu (mendengarkan keluhannya) di salah satu jalan sehingga wanita tersebut merasa puas.”
ETOS KOMUNIKATOR
Kesiapan (Preparedness)
Kesungguhan (Seriousness)
Ketulusan (Sincerity)
Kepercayaan (Confidence)
Ketenangan (Poise)
Keramahan (Friendship)
Kesederhanaan (Moderation)
Kesiapan (preparedness)
Seorang komunikator yang tampil di mimbar harus menunjukkan kepada khalayak, bahwa ia muncul di depan forum dengan persiapan yang matang. Kesiapan ini akan tampak pada gaya komunikasinya yang meyakinkan. Tampak oleh komunikan penguasaan komunikator mengenai materi yang dibahas.
Kesungguhan (Seriousness)
Seorang komunikator (da’i) yang berbicara dan membahas suatu topik dengan menunjukkan kesungguhan, akan menimbulkan kepercayaan pihak komunikan kepadanya
Ketulusan (Sincerity)
Da’i harus membawakan kesan kepada khalayak, bahwa ia berhati tulus dalam niat dan perbuatannya, sehingga dapat menghindarkan kesan “bohong” pada pikiran khalayak
Kepercayaan (Confidence)
Da’i harus senantiasa memancarkan kepastian. Ini harus selalu muncul dengan penguasaan diri dan situasi secara sempurna (siap menghadapi segala situasi)
Ketenangan (Poise)
Khalayak cenderung akan menaruh kepercayaan kepada komunikator yang tenang dalam penampilan dan tenang dalam mengutarakan kata-kata. Ketenangan ini perlu dipelihara dan selalu ditunjukkan pada setiap peristiwa komunikasi
Keramahan (Friendship)
Keramahan komunikator akan menimbulkan rasa simpati komunikan kepadanya. Keramahan tidak berarti kelemahan, tetapi pengekspresian sikap etis. Keramahan tidak saja ditunjukkan dg ekspresi wajah, tetapi juga gaya dan cara mengutaraan paduan pikiran dan perasaannya
Kesederhanaan
Kesederhanaan tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat fisik, tetpi juga dalam hal penggunaan bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dan dalam gaya mengkomunikasikannya
Selengkapnya...
Selasa, 06 April 2010
PERAN DAN ETOS KOMUNIKATOR DALAM BERDAKWAH
Al-Qur’an Di Hati Seorang Muslim ( باللغة الإندونيسية )

Disusun Oleh:
Muh.Mu’inudinillah Basri, MA
Murajaah :
Zulfi Askar
القرآن في قلب المسلم
إعداد:
د. محمد معين بصري
مراجعة:
زلفي عسكر
Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض
1428 – 2007
Ada beberapa pertanyaan yang selalu menggelayuti hati ketika melihat kondisi kaum muslimin. Pertanyaan itu sebagai berikut :
Bukankan Allah itu Maha Penyayang dan sangat menyayangi umat beriman ?.
Bukankan Allah itu Maha berkuasa dan mampu menjayakan kaum muslimin ?.
Bukankan Al Qur’an yang kita baca dalam shalat kita adalah sumber kebahagiaan, kejayaan, kemakmuran bagi yang mengamalkannya ?.
Bukankah kaum muslimin itu umat terbaik yang diutus untuk memimpin, bukan dipimpin umat lain, mendidik bukan dididik umat lain ?.
Bukankah umat Islam dijadikan Allah sebagai umat yang satu ?.
Terus kalau kita ingin memproyeksikan hakekat di atas dengan kondisi kaum muslimin pada masa kini, maka hasilnya akan menuntut kita untuk lebih merenung, dimana kejayaan kaum muslimin ?, dimana harga diri kaum muslimin, bahkan dimana harga darah seorang muslim di mata kaum muslimin sendiri ?, dimana kepemimpinan, kejayaan kaum muslimin diatas kaum yang lainnya ?, dimana solidaritas sesama kaum muslimin ? dalam skala nasional maupun internasional .
Kemudian saya membaca ayat ini :
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (الحديد:16)
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik" ( QS. Al-Hadiid: 16)
Dan merenungi rintihan Rasulullah kepada Robbnya dengan mengatakan :
)وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً) (الفرقان:30)
"Berkatalah Rasul: wahai Robbku sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini sesuatu yang ditinggalkan”. QS. Al-Furqaan: 30
Ditinggalkan karena mereka tak membacanya, atau tidak mau merenungi maknanya atau tidak mau mengamalkan isinya.
Yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan diatas adalah kita bersama merenungi sambutan Rasulullah dan para sahabat terhadap Al Qur’an dan bagaimana kedudukan Al Qur’an dihati mereka.
Bagaimana Al Qur’an dihati Rasulallah dan para sahabat ?
Pertama : para sahabat memandang kebesaran Al Quran dari kebesaran yang menurunkannya, kesempurnaannya dari kesempurnaan yang menurunkannya, mereka memandang bahwa Al Qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Maha Perkasa, Maha Mengetaui, Maha Kasih Sayang, sebagaimana ditekankan oleh Allah dalam berbagai permulaan surat :
تنـزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم سورة الزمر، الجاثية، الأحقاف، تنـزيل الكتاب من الله العزيز العليم سورة المؤمن، تنـزيل من الرحمن الرحيم سورة فصلت كذلك يوحي إليك وإلى الذين من قبلك الله العزيز الحكيم ،له ما في السموات وما في الأرض وهو العلي العظيم سورة الشورى
Dari pandangan ini mereka menerima Al Qur’an dengan perasaan bahagia campur perasaan hormat, siap melaksanakan perintah dan perasaan cemas dan harapan, serta perasaan kerinduan yang amat dalam, bagaimana tidak ?, karena orang yang membaca Al Qur’an berarti seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Allah, sekaligus seperti seorang prajurit yang menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapat pengarahan dari Dzat yang maha mengetahui. Dan perasaan inilah yang digambarkan oleh Allah dalam Firmannya :
أولئك الذين أنعم الله عليهم من النبيين من ذرية آدم وممن حملنا مع نوح ومن ذرية إبراهيم وإسرائيل وممن هدينا واجتبينا إذا تتلى عليهم آيات الرحمن خروا سجدا وبكياً (سورة مريم الآية : 58 )
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis" (QS. Maryam: 58)
إن الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجداً ويقولون سبحان ربنا إن كان وعد ربنا لمفعولاً ويخرون للأذقان ويزيدهم خشوعاً (سورة الإسراء: 107-109)
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi"(108) Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu' " ( QS. Al-Israa: 107-109)
Perasaan diatas menyebabkan Umu Aiman menangis ketika teringat akan wafatnya Rasulullah. Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada ibu asuh Rasulallah, Ummu Aiman dan ketika mereka duduk, menagislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasulallah, maka berkatalah Abu Bakar dan Umar, “Kenapa anda menangis sementara Rasulullah mendapatkan tempat yang mulia” ? Ummu Aiman menjawab, "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Allah yang datang kepada beliau pada pagi dan petang hari", maka saat itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga .
Dari perasaan diatas para sahabat membaca dan menerima Al Qur’an untuk dilaksanakan secara spontan tanpa menunggu-nunggu dan tanpa protes sedikitpun, walau-pun hal itu bertentangan dengan kebiasaan mereka, tapi mereka bisa menundukkan perasaan mereka dengan kecintaan kepada Allah.
Ketika turun perintah untuk memakai jilbab pada surat Al Ahzab : 59, malam hari Rasulallah menyampaikan ayat itu kepada para sahabat, pagi harinya para istri sahabat sudah memakai jilbab semua, bahkan `Aisyah mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor, mereka diperintah untuk memakai hijab pada malam hari sementara pada paginya mereka sudah memakainya, bahkan ada yang merobek kelambu mereka untuk dijadikan jilbab".
Ketika diharamkannya khomer dan ayat itu sampai kepada mereka, saat itu juga langsung mereka membuang simpanan khomernya dan menuang apa yang masih berada pada tangannya.
Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah keimanan mereka kepada Allah, surga dan neraka-Nya, juga kepada janji-Nya, sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tak/tidak memahami latar belakang ini akan sulit menafsirkannya.
Seperti ketika mereka membaca tentang janji Allah buat orang-orang yang berjihad karena cinta kepada Allah, seorang sahabat yang bernama Umair bin Hamam sedang makan korma bertanya: wahai Rasulullah, “Dimana saya kalau saya mati dalam perang ini ? Rasululloh menjawab "Di sorga", berkatalah Umair : "Sungguh menunggu waktu masuk surga sampai menghabiskan makan kurma tujuh biji ini adalah sangat lama”, dan akhirnya dibuanglah sisa kurma yang belum dimakan dan langsung memasuki pertempuran sampai menemui syahidnya.
Kondisi keimanan yang tinggi ini menjadi episode kehidupan mereka untuk menjadi bagian dari yang diceritakan oleh Allah dalam Al Qur’an, Hal itu seperti perhatian orang-orang Anshor terhadap orang-orang muhajirin atau perhatian mereka terhadap orang-orang yang lemah, seperti yang Allah ceritakan dalam surat Al Hasyr dimana Rasulullah kedatangan tamu dan beliau tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya, akhirnya beliau tawarkan hal itu kepada sahabatnya, siapa yang bersedia membawa tamu beliau, dengan sepontan salah satu sahabat bersedia, tetapi ketika sampai rumah ternyata istrinya bilang bahwa tidak ada persediaan makanan kecuali makan malam anaknya, maka sahabat tadi memerintahkan istrinya agar mengeluarkan makanan tadi untuk tamunya dan mengeluarkan dua piring kemudian segera mematikan lampu ketika tamunya sedang makan, tamunya makan dan tuan rumah menampakkan seakan-akan ikut makan bersama, agar dia bisa makan dengan enak, ketika sampai pagi hari sahabat tadi bertemu dengan rasul dan beliau bilang kalau Allah heran dengan apa dia lakukan, maka turunlah firman Allah ayat kesembilan dari surat al Hasyr.
Kedua : Rasulullah dan para sahabat memandang Al Qur’an sebagai obat bagi segala penyakit hati dan ketika mereka membaca Al Quran yang berbicara tentang segala kelemahan hati, penyakit hati, mereka tidaklah merasa tersinggung bahkan mereka berusaha mengoreksi hati mereka dan membersihkan segala sifat yang dicela oleh Al Qur’an serta berusaha untuk bertaubat dari apa yang dikatakan buruk oleh Al Qur’an .
Maka sudah pantaslah ketika Al Qur’an banyak menceritakan sifat-sifat munafiqin mulai dari malas shalat, sedikit berdzikir, pengecut, mengambil orang kafir sebagai pemimpin dan lain-lainnya, para sahabat segera mengkoreksi hati mereka dan mencari obatnya, walaupun mereka tidak dihinggapi penyakit itu, berkatalah Abdullah ibnu Mulaikah :
أدركت سبعين من أصحاب محمد كلهم يخافون من النفاق.
“Aku mendapatkan tujuh puluh dari sahabat nabi, mereka semua takut kalau terkena penyakit nifaq”.
Ketika sahabat Handholah merasa adanya fluktuasi keimanan, maka segeralah ia datang kepada Rasulallah dengan mengatakan “Ya Rasulallah nifaqlah Handholah”, berkatalah Rasul Allah : "Kenapa ?" Handlolah menjawab: “Wahai Rasul Allah kalau saya sedang berada disamping engkau dan engkau ingatkan kami dengan sorga dan neraka, jadilah sorga dan neraka seakan-akan jelas dimata kami, tapi jika kami pulang dan bergaul dengan anak istri serta sibuk dengan harta kami, kami banyak lupa, bersabdalah Rasulallah, “Wahai Handholah kalau kalian berada dalam kondisi seperti itu (seakan melihat sorga dan neraka) terus menerus pastilah para malaikat menyalami kalian dijalan-jalan kalian”.
Dari sensitifitas perasaan Handholah dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, ia bisa mengalahkan perasaan ingin dekat dengan istrinya pada malam pertama dan ditinggalkannya untuk berjihad sampai syahid, padahal ia belum sempat mandi junub, sehingga Rasulullah bersabda bahwa ia dimandikan oleh para malaikat .
Ketiga : Para sahabat memandang bahwa Al Qur’an adalah nasehat dari Dzat yang amat sayang dengan mereka yang sangat perlu didengar, yang berarti bahwa mereka sangat menyadari kalau mereka bisa salah, tapi akan segera kembali kepada kebenaran manakala ada teguran dari Al Qur’an.
Ma’qil bin Yasar pernah menikahkan adik perempuannya dengan salah seorang sahabat, tapi kemudian di cerainya sampai habis masa iddahnya, kemudian bekas suami tadi melamar lagi dan karena Ma’qil sedang marah beliau tolak lamarannya dan bertekad untuk tidak menikahkan kembali keduanya, padahal adiknya juga masih cinta dengan bekas suaminya serta ingin kembali kepadanya. Dengan kejadian ini Allah menurunkan ayat :
)وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ) (البقرة:232)
"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" QS. Al-Baqarah: 232
Setelah turun ayat ini Ma’qil langsung menikahkan adiknya lagi dengan sahabat mantan suamiya .
Sahabat hidup dengan misi, “Risalah menyelamat-kan seluruh manusia dari perbudakan manusia untuk manusia menuju penghambaan Allah yang Esa dan mengeluarkan mereka dari kedhaliman sistim manusia menuju keadilan Islam dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akherat”, dan pastilah kaum yang membawa misi demikian ada pendukung dan musuhnya, maka mereka menjadikan Al Qur’an sebagai pembimbing untuk mengetahui musuh-musuh Allah, dan musuh mereka, siapa wali-wali mereka dan wali-wali Allah dan mereka memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Allah, mereka cinta terhadap ayah, anak, istri, serta kerabat mereka. Tetapi jika yang dicintai itu memusuhi Allah dan Rasul-Nya serta membenci Islam, maka mereka segera merubah sikapnya dengan hanya memihak Allah dan mencabut perasaan cintanya kepada selain Allah, Allah berfirman :
لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) (المجادلة:22) ." Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung" QS. Al-Mujaadilah: 22
Ayat ini turun berkenaan ketika Abu Ubidah bin Jaroh membunuh ayahnya di perang Badar, karena ayahnya bersama pasukan kuffar Quraisy .
Keempat : Para sahabat memandang bahwa seluruh alam semesta dan diri mereka adalah ciptaan Allah dan tidak mungkin membudidayakan alam semesta serta mengatur mereka kecuali Dzat yang menciptakannya, sehingga mereka meyakini bahwa keimannya menuntut untuk menjadikan Al Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, mereka menjadikan Al Quran sebagai way Of live –pedoman hidup- mereka dan sangat sensitif terhadap usaha-usaha yang akan memisahkan satu bagian sistim Islam dengan bagian yang lainnya.
Pantaslah kalau Kholifah Abu Bakar berpidato ketika banyak orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat, dengan mengatakan :
أينقص الدين وأنا حي !! والله لو منعوني عقالاً كانوا يؤدونه إلى رسول الله لقاتلتهم على منعه رواه مسلم .
“Apakah agama ini akan dikurangi padahal saya masih hidup, demi Allah kalau mereka menghalangi tali yang mereka serahkan kepada Rasulallah pastilah aku perangi mereka atas keengganannya”.
Mereka menyadari betul adanya perbedaan antara orang yang belum mampu melaksanakan, dengan orang yang sengaja memilih-milih apa yang mau dilakukan dan apa yang ditolak.
Yang pertama masih dalam ruang lingkup iman seperti Raja Habsyi yang dishalati ghoib oleh Rasulallah, padahal ia belum melaksanakan hukum Islam, karena belum mampu. Adapun yang sengaja pilih-pilih seperti memilih beras, mereka mencap orang tersebut sudah keluar dari Islam atau munafiqin, sebagaimana yang Allah firmankan :
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (البقرة: من الآية85)
“Apakah kalian beriman dengan sebagian kitab dan kafir terhadap sebagian yang lain? Tidaklah balasan orang yang melakukan demikian kecuali kehinaan didunia dan dihari qiamat mereka dikembalikan ke adzab yang sangat keras. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” QS. Al-Baqarah: 85
Keuniversalan dan keintegralan Al Qur’an ini digambarkan oleh sahabat Ali bin Abi Tholib dalam ucapannya :
هو كتاب الله فيه نبأ من قبلكم ،وخبر ما بعدكم وحكم ما بينكم هو الفصل ليس بالهزل من تركه من جبار قصمه الله ومن ابتغى الهدى في غيره أضله الله وهو حبل الله المتين وهو الذكر الحكيم وهو الصراط المستقيم وهو الذي لا تزيغ به الأهواء، ولا تلتبس به الألسنة ولا يشبع منه العلماء ولا يخلق عن كثرة الردّ ولا تنقضي عجائبه وهو الذي لم تنته الجن إذا سمعته حتى قالوا إنا سمعنا قرآناً عجباً، يهدى إلى الرشد فآمنا به من قال به صدق ومن عمل به أجر ومن حكم به عدل ومن دعا إليه هدي إلى صراط مستقيم .
“Dia adalah Kitabullah yang di dalamnya ada berita orang sebelum kalian, kabar apa yang terjadi setelah kalian, hukum diantara kalian, dia adalah keputusan yang serius bukan main-main, barang siapa meninggalkannya dengan kesombongan pasti dihancurkan oleh Allah , barang siapa mencari petunjuk dari selainnya akan disesatkan oleh Allah, dialah tali Allah yang kokoh, dialah peringatan yang bijaksana, dialah jalan yang lurus, dialah yang dengannya hawa nafsu tidak menyeleweng, dan tidak akan rancu dengannya lisan, dan tidak kenyang-kenyangnya dari (membacanya, mempelajarinya) para ulama, tak akan usang karena diulang-ulang, dan tak habis-habis keajaibannya, dan dialah yang jin tak henti-hentinya dari mendengarnya sehingga dia mengatakan; “Sungguh kami mendengar Al- Qur’an yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman dengannya", barang siapa yang berkata dengannya pasti benar, barang siapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barang siapa menghukumi dengannya pastilah adil, barang siapa mengajak kepadanya pasti di tunjuki kejalan yang lurus.
Kelima : Para sahabat memandang bahwa Al Qur`an adalah kasih sayang dari Allah, mereka melihat bahwa seluruh isi Al Quran, baik itu aqidah, hukum, perintah, larangan serta berita–beritanya hanyalah untuk kebaikan manusia, maka mereka menerimanya dengan senang hati, adapun yang menolak hukum Islam pada dasarnya adalah lebih memihak kepada para pemeras orang lemah dari pada memihak orang yang diperas, lebih sayang dengan para pembunuh dari pada yang dibunuh atau lebih memihak para penggarong dan pemerkosa dari pada yang di garong dan diperkosa, lebih memihak musuh Allah dari pada memihak Allah, dan secara implisit menuduh Allah keras dan dholim, orang yang semacam ini perlu intropeksi akan hakekat keimanannya.
Sedangkan para sahabat memahami hal tersebut di atas sebagaimana memahami wajibnya puasa dari firman Allah :
" كتب عليكم الصيام "
"Telah diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa" QS. Al-Baqarah
Mereka juga memahami wajibnya jihad, menegakkan qishos, mengamalkan wasiyat dengan firman Allah :
كتب عليكم القصاص كتب عليكم إذا حضر أحدكم الموت كتب عليكم القتال سورة البقرة
"Telah diwajibkan bagi kalian hukum qishash" "Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut" "Diwajibkan bagi kalian untuk berperang" QS. Al-Baqarah
Para sahabat menjadikan Al Qur’an sebagai penerang hakekat hidup, dari Al Qur’an mereka mengetahui bahwa dunia ini hanya seperti tanaman di ladang yang hijau kemudian menguning dan hancur, maka mereka sangat zuhud dengan dunia, mereka mengetahui dari Al Qur’an bahwa rizqi, umur sudah ditentukan oleh Allah dan tidak akan berkurang karena perjuangan, maka mereka terus berjuang dan berjihad tanpa takut mati dan tidak pula takut kehilangan harta, mereka mengetahui bahwa mereka diciptakan dalam kondisi bertingkat-tingkat dalam hal ekonomi, kecerdasan dan kekuatan fisik untuk menguji mereka akan tugas yang mereka pikul, maka ketika mereka menjadi para gubernur dan kholifah mereka melihat itu semua sebagai tugas bukan suatu kehormatan, apalagi ketika mereka mendengar Rasulallah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori-Muslim :
" ما من عبد يسترعيه الله رعية فلم يحطها بنصيحة إلا لم يجدها رائحة الجنة " (متفق عليه )
“Tidaklah ada seorang hamba yang dijadikan Allah memimpin rakyat kemudian tidak serius dalam memikirkan kemaslahatannya kecuali tidak akan mencium baunya sorga” HR. Muttafaq 'alaih.
" ما من وال يلي رعية من المسلمين فيموت وهو غاش لهم إلا حرم الله عليه الجنة " ( متفق عليه )
“Tidaklah ada seorang wali (pemimpin) rakyat dari kaum muslimin kemudian mati dalam kondisi curang terhadap mereka kecuali Allah haramkan atas dia sorga” HR. Muttafaq 'alaihi.
Para sahabat ketika mendengar hadits ini mereka langsung bersungguh-sungguh dalam memikirkan nasib rakyatnya, sangat berhati hati dalam mengelola harta rakyat sampai Kholifah Umar mengatakan, “Saya menempatkan diri saya dengan baitul mal ini seperti wali yatim dengan harta anak yatim, kalau kaya tidak makan sama sekali darinya dan kalau miskin makan secukupnya”, dan pantaslah Umar dalam musim kelaparan ikut merasakan dan ikut terdengar keroncongan perutnya, beliau mengatakan kepada perutnya :
قرقري أو لا تقرقري فإنك لن تشبعي حتى يشبع المسلمون .
“Silahkan perutku engkau keroncongan atau tidak keroncongan, engkau tak akan kenyang kecuali kalau seluruh kaum muslimin sudah kenyang”.
Dan itu semua dikarenakan para sahabat diberi keimanan sebelum menerima Al Quran sehingga mereka selalu membacanya siang dan malam dan memiliki waktu mingguan dan bulanan dalam menghatamkan bacaan Al-Qur’an, mereka tidak pernah merasa kenyang dari membaca Al Qur’an dan mentadaburinya sebagaimana Allah ceritakan kondisi mereka :
" الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته أولئك يؤمنون به "
“Orang-orang yang Kami berikan kitab, mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan mereka itulah orang yang benar–benar beriman dengannya”.
" أمن هو قانت آناء الليل ساجدا وقائما يحذر الآخرة ويرجو رحمة ربه قل هل يستوى الذين لا يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكر أو لو الألباب . سورة الزمر : الآية :9
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran" (QS. Az-Zumar: 9).
Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan membaca, akan tetapi tapi mereka mentadabburinya sehingga diantara mereka ada yang mengulang-ulang satu ayat dalam shalatnya sampai fajar.
Terakhir, mereka melihat Al Quran sebagai sesuatu yang mengorbit kepada tauhid yang isinya berkisar :
أ - التوحيد : معرفة الله توحيده وجلاله، عظمته، ورحمته، وقربه من عبادة .
A : Tauhid: Mengetahui Allah bahwa Dia adalah yang Maha Esa, Agung, Mulia, Pemberi Rahmat dan dekat dengan hamba-Nya.
ب - آيات التوحيد و قدرة الله .
B : Bukti-bukti ketauhid-an dan kekuasan Allah .
ج - حقوق التوحيد : الأوامر والنواهي وإخلاص العبادة, جعل الحكم له خالصاً .
C : Hak tauhid yaitu perintah untuk dijalankan, larangan untuk ditinggalkan, ibadah untuk ditunaikan, ikhlas dalam beribadah dan menjadikan hukum ditegakkan hanya untuk Allah, karena Allah telah menegaskan bahwa hukum hanya milik Allah dan kalau menyembah Allah haruslah menjadikan hukumnya sebagai aturan kehidupan dan itu sarat agar agama seseorang menjadi agama yang lurus :
" إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم "
“Hukum itu milik Allah dan tidaklah kalian diperintah kecuali untuk menyembah kepada-Nya, dan itulah agama yang lurus”.
د - جزاء التوحيد : ثواب الموحدين من الرفعة في الدنياً والتمكين والبركة في الحياة، والأمن، والعزة، ودخول الجنة، والنصر على الأعداء، وعقوبة المشركين والكافرين والمنافقين من الهوان في الدنيا والضنق في الحياة والعذاب الدائم في الآخرة .
D : Balasan yang didapat dari bertauhid yang berupa pahala buat ahli tauhid dari ketinggian didunia, stabilitas kedudukan, keberkahan hidup, keamanan, kejayaan, masuk sorga, dan kemenangan terhadap musuh. juga hukuman terhadap orang musyrikin, kafirin dan munafiqin dari kehinaan didunia, kesempitan dalam kehidupan dan adzab yang kekal di akherat.
هـ - مواصفات الموحدين : من التواضع للحق، حسن الخلق، الاستعداد للتضحيات، الوفاء بعهد الله والناس، الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، ودعوة الناس للخير .
E : Kriteria muwahhidin (ahli tauhid) seperti tawadhu’ terhadap kebenaran, akhlaq yang baik, kesiapan untuk berkorban, setia dengan janji, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta mengajak manusia kepada kebaikan.
و - المفاهيم المعينة على الاستقامة من بيان حقيقة الدنيا وأنها متاع الغرور، ومحدودية عمر الإنسان، وصعوبة سكرات الموت .
F : Pemahaman-pemahaman yang membantu ahli tauhid untuk bisa istiqamah dalam iman seperti keterangan akan hakekat dunia dan bahwasanya dia itu kesenangan yang menipu, dan bahwa umur manusia itu sangat terbatas dan menghadapi sakaratul maut adalah sebuah kesulitan yang akan dihadapi oleh setiap manusia.
Terakhir sebagai penutup, itulah sifat dan interaksi para sahabat terhadap Al Qur’an dan semoga kita bisa mencontoh mereka, mereka telah bersusah payah untuk kebahagiaan kita, rasa lelah sudah hilang, mereka telah bahagia untuk selama-lamanya dan didunia sejak zaman mereka sampai hari qiamat selalu dikenang dan didoakan oleh orang yang datang setelah mereka, alangkah bahagianya mereka.
اللهم إنا نسألك بعزتك التى لا ترام وبملكك الذى لا يضام وبنورك الذى ملاء أركان عرشك أت تملأ قلوبنا بالإيمان وأن تهدى قلوبنا للإسلام وأن تجعلنا ممن يحبك ويحب دينك أكثر من محبته لنفسه، وأن ترينا الحق حقاً وأن ترزقنا اتباعه وأن ترينا الباطل باطلاً وأن ترزقنا اجتنابه إنك سميع الدعاء وصل اللهم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .
Selengkapnya...
Kamis, 26 November 2009
komunikasi dakwah
Metode Dakwah
حَدِيْثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : لَمَّا بَعَثَ مُعَا ذًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْيَمَنِ قَالَ : إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمِ أهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إلَيْهِ عِبَادَةُ اللهِ فَإذَا عَرَفوُا اللهَ فَأخْبِرْهُمْ أنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ . خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ . فَإذَا فَعَلوُا فَأخْبِرْهُمْ أنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً مِنْ أمْوَالِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإذَا أطَاعُوا بٍِِِِِهٍَِا فَخُذْ مِنْهُمْ َوتَوَقَّ كَرَا ئِمِِ أمْوَالِ النَّاسِِِِِِ
Kewajiban berdakwah
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ : ...............................
سَمِعْتُ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُولُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ اَضْعَفُ اْلإِيْمَانَ
Diriwayatkan dari Thoriq bin Syihab ra. ………. Rasulullah saw bersabda : barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman
CARA BERDAKWAH (MENYAMPAIKAN PESAN)
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيَ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : َانَّهُ كاَنَ إذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثاً حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإذَا أَتىَ عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ ثَلاَثًا
Diriwayatkan dari Anas ra : kapanpun Nabi Muhammad saw mengucapkan sebuah pernyataan, beliau mengulanginya samapi tiga kali sehingga orang-orang dapat mengerti perkataannya dengan baik, dan kapanpun Nabi saw meminta izin untuk masuk (ke dalam rumah) beliau mengetuk pitu tiga kali dan mengucapkan salam
PROSES KOMUNIKASI
DAMPAK KOMUNIKASI :
a. Dampak Kognitif :
b. Dampak Afektif
c. Dampak Behavioral
Cat*****diambil pada saat mengikuti mata kulaih hadits komunikasi di STAIN samarinda Jurusan DAKWAH*****
Selengkapnya...
Kamis, 08 Oktober 2009
Sumber Daya Manusia (SDM)
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sumber daya manusia adalah semua potensi yang berhubungan dengan data kependudukan yang diliki oleh suatu daerah atau negara yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Manusia merupakan sumberdayas terpenting dalan suatu bangsa atau negra. Sumberdaya mansuia itu harus memadai, baik dilihat dari segi kuantitas maupun kaulitas. Segi kuantitas bersangkutan paut dengan jumlah, kepadatan, mobilitas penduduk, tingkat kesehatan, dan kualitas terutama dilihat dari beberapaaspek, seperti tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, dan kualitas tenaga kerja yang tersedia, sumber daya manusia yang bernilai kualitatif adalah kemampuan kreatif dan produktif sehingga yang dihasilkan melebihi yang dimkan serta yang dirusak.
Sekarang ini kita memasuki era globalisasi, yaitu suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia di mana batas wilayah bukan lagi merupakan hambatan yang berarti.
Frekuensi hubungan antara bangsa-bangsa di dunia ini menjadi makin intens, hubungan bangsa kita dengan bagsa lain cenderung makin tinggi. Ini memebawa konsekuensi pengaruh di mana tata nilai dan budaya luar akan makin deras pula masuk ke Indonesia. Akibatnya kalau kita tidak mempunyai ketahanan ideologi, kewaspadaan dan sumber daya manusia yang kuat, kita bisa menjadi korban globalisasi dan dalam pergaulan antar bangsa tersebut. Sebaliknya kalau kita memiliki ketahanan idiologi, kewaspadaan dan sumber daya manusia yang kuat dan terlatih, maka di tengah-tengah keadaan yang tidak menentu ini, kita akan dapat memperoleh keuntungan.
Komunikasi yang semakin maju, globalisasi, dan makin tingginya hubungan antar bangsa, memungkinkan makin terbukanya pasar internasional bagi hasil produksi dalam negeri terutama yang memiliki keunggulan komperatif dan kompetetif, ini berarti kesempatan yang baik bagi kita untuk mengekspor produk kita ke luar negeri, datangnya serbuan ekonomi dari luar negeri.
B. TUJUAN
“Untuk memajukan SDM Bangsa Indonesia dan mengembangkan SDM Bangsa Indonesia dalam era globalisasi”
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Berbicara masalah sumber daya manusia, sebenarnya dapat kita lihat dari dua aspek, yakni kuantitas dan kualitas. Kuantitas menyangkut jumlah sumber dya manusia (penduduk) yang kurang kontribusinya dalam pembangunan , dibandungkan dengan aspek kualitas. Bahkan kuantitas sumbner daya manusia tanpa disertai dengan kualitas yang baik akan menjadi beban pembangunan suatu bangsa. Sedangkan kualitas menyangkut mutu sumber daya manusia tersebut, yang menyangkut kemampuan baik kemampuan fisik maupun kemampuan non fisik (kecerdasan dan mental). Oleh karena itu untuk kepentingan akselerasi suatu pembangunan di bidang apa pun, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan suatu prasayarat utama.
Untuk meningkatkan kualitas fisik dapat diupayakan melalui program-program kesehatan dan gizi, sedangkan untuk meningkatkan kualitas atau kemampuan non fisik tersebut maka upaya pendidikan dan pelatihan adalahyang paling diperlukan. Upaya inilah yang dimaksudkan dengan pengembangan Sumber daya manusia.
Pengembangan sumber daya manusia secara makro, adalah suatu proses peningkatan kualitas atau kemampuan manusia dalam rangka mencapai suatu tujuan pembangunan bangsa. Proses peningkatan di sini mencangjup perencanaan, pembangunan dan pengelolan sumber daya manusia.
Apablila kita berbcara secara mikro,dalam arti lingkungan suatu unit kerja (Departeman atau lembaga-lembaga yang lain), maka sumber daya manusia yang dimaksud adalah tenaga kerja atau pegawai atau karyawan (employee).
Pengembangan sumber daya manusia secara micro adalah suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan dan pengelolaan tenaga vatau karyawan untuk mencapai suatu hasil optinum. Pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya untukl pengembangan sumber daya manusia, terutama untuk pengembangan aspaek kemampuan intelektual dan kepribadaian manusia.
Pendidikan dan pelatihan dapat dipandang sebagai salah satu bentuk investasi. Oleh karena itu setiap organisasi atau intansi yang ingin berkembang, maka pendidikan dan pelatihanh vbagi karyawannya harus memperoleh perhatian yang besar tambahnya di zaman globalisasi sekarang.
B. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
1. Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pembangunan
Pendidikan merupakan salah satu sektor pembangunan, dan oleh karenanya pembahasan tentang masalah pendidikan umumnya dan pelatihan khususnya,tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan dari tujuan, sasaran dan titik berat pembangunan. Dalam GBHN(1993) telah didariskan, bahwa: Pembangunan jangka panjang kedua bertujuan mewujudkan bagsa yang maju dan mandiri serta sejahtra lahir batin sebagi landasan bagi tahap pembangunan berikutnya menuju masyarakat adil dan makmur dalam NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Sasaran umum pembangunan kedua jangka panjang kedua adalah terciptanya kualitas manusia dan kualitas masyarakat Indonesia maju dan mandiri dalam suasana tentram dan sejahtra lahir dan batin. Titik berat pembangunan jangka panjang kedua diletakkan pada bidang ekonomi, yang merupakan penggerakan untama pembangunan, seiring dengan kualitas sumber daya manusia dan didorong dengan rasa saling memperkuat.
1. Pendekatan Integratif Sumber Daya Manusia
Suatu konsep yang ditawarkan ialah Model Integratif Siklus Multi Dimensional SDM, yang memuat hal-hal senagai berikut:
a. SDM dilihat dari empat dimensi hubungan yakni: Hubungan dengan sesamanya, atau dengan dirinya sendiri ; hubungan manusia dengan manusia; hubungan dengan lingkuangan; hubungan dengan Tuhan YME.
b. Karateristik kualitas SDM mencangkup delapan aspek : kesehatan, ekonomi, pendidikan, keagamaan, mental psikologi, sosial budaya, lingkungan alamiah, ketahanan sosial dan keamanan.
C. TUJUAN PENGEMBANGAN NASIONAL DAN GAMBARAN KEHIDUPAN YANG DIHARPKAN
Dalam era globalisasi ini kita hidup dala suasana penuh persaingan, perdagangan bebas, dan hubungan antarbangsa semakin terbuka. Untuk itu, diperlukan persiapan yang matang dan memadai. Gamabaran kehidupan yang sesuai dalam fase ini antara lain:
a. kualitas SDM yang tinggi, yang tercermin dari kemampuan tenaga-tenaga profesional,
b. semakin handalnya sumber-sumber pembiyaan pembangunan yang bersal dari dalam negeri,yng berarti ketrgantungan kepada pembiyaan dari luar negeri semakin kecil/tidak ada,
c. memiliki kemampuan untuk memenuhi sendiri kebutuhan pokok,
d. secara umum memilki ketahanan ekonomi yang tangguh dan memiliki saing tinggi,dan
e. etos kerja dan disiplin yang tinggi.
Disamping itu, perlu diperhatikan juga situasi intenasional baik situasi politik, keamanan maupun ekonomi, karena hal itu dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan kita baik langsung atau tidak yang pada gilirannya akan dapat mengganggu usaha mencapai sasaran-sasaran pembangunan nasional.
Skema pembangunan sumber daya manusia dalam pembagunan.
D. GlOBALISASI DALAM HUBUNGAN ANTAR BANGSA
1. Di Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Hubungan dan kerjasama dengan bangsa lain, khususnya dalam bidang Iptek diharapkan dapat menstransfer iptek tersebut untuk kemajuan kita dan kemajuan sumber daya manusia Indonesia karena dengan iptek in mudah-mudahan masyarakat bisa semakin maju dan tidak ketinggalan zaman dari masyarakat luar negeri. Dan dengan iptek dan juga sumber daya manusia akan semakin maju dan berkembang karena komunikasi semakin lancar, makin tingginya penguasaan terhadap iptek, berarti dapat mendukung dan mempelancar jalannya pembangunan. Dan tanpa sumber daya manusia pun tidak mungkin pembangunan akan lancar karena SDM lah yang berfungsi untuk membuat pembangunan semakin maju. Maka diharapkan kepada pemerintah agar meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.
2. Di Bidang Sikap Mental
Peningkatan budaya disiplin, etos kerja dalam kehidupan perlu kita wujudkan dengan peningkatan suka bekerja keras, menghargai waktu, berdisiplin dalam segala hal. Dan perlu ditegaskan di sini sumber daya manusia Indonesia harus melakukan apa yang ada di atas tersebut agar sumber daya manusia Indonesia disiplin dengan adanya waktu, bekerja keras, dan lain sebagaianya demi membangun Indonesia yang maju. Dan saat bersaing di negara maju lainnya. Apabila kita meningkatkan kerja keras (etos kerja yang baik), disiplin seperti bangsa Jepang, Korea Selatan, dan sebagainya, maka sumber daya manusia Indonesia kan semakin maju dan mudah bergaul dengan bangsa-bangasa lain yang sudah berkembang. Dan hasil produktifitas, prestasi kerja akan mendapatkan hasil yang optimal bagi pembagunan Indonesia. Pengaruh globalisasi akan membawa pengaruh yang positif dan negatif. Pengaruh negatif dapat terjadi dalam berbagai aspek kehidupan.
3. Di Bidang Ekonomi
Era globalisasi ditandai kuatnya persaingan bebas di pasaran internasional, dan munculnya pengelompokan dagang antar bangsa yang cenderung meningkatkan proteksi dan diskriminasi pasar. Akibatnya yang tidak bisa barsaing akan kalah dan bisa mati. Maka dengan adanya persaingan babas ini diharapkan agar sumber daya manusia Indonesia semakin maju karena kalau tidak maju-maju bangsa Indonesia akan kalah dan mati dalam persaingan pasar bebas yang semakin hari semakin maju.
4. Di Bidang Sosial Budaya
Di bidang ini dengan adanya keterbukaan, gbalisasi dan semakin intensnya hubungan kita dengan bangsa lain, maka akan masuk nilai-nilai sosial budya asing termasuk yang tidak sesuia dengan keperibadian kita. Akibtnya pola pikir, sikap hidup, dan perbuatan kita akan terpengaruh. Apabila hal ini tidak kita sadari atau tidak segera kita tanggulangi akan sangat merugikan bagi kehidupan sumber daya manusia, bangsa dan negara. Contoh akibat pergulan bebas, minuman-minuman keras, pertujukan-pertujukan hiburan yang cenderung porno dan asusila, demonstrasi atau unjuk rasa yang diikiti dengan tindak kekerasan dan lain-lain.maka dengan adanya globalisasi ini kita awasi sumber daya manusia Indonesia kita agar tidak terjerumus ke dalam liang kejahatan dan hawa nafsu belaka dan mengakibtkan SDM kita tidak peduli lagi dengan adanya pembangunan nasional.
5. Di Bidang Politik dan Pertahanan Keamanan
Akibat negatif yang ditimbulkan sebagi akibat transparansi, globalisasi, dan hubungan kita dengan bangsa lain yaitu kemunginan timbulnya rongrongan terhadap idiologi Pancasila, Wawasan Nusantara, ketahanan nasional khususnya persatuan dan kesatuan bangsa, seperti separatisme, gejala disintegrasi bangsa, konfilk sosial yang dapa mengganggu kelancaran jalannya pembangunan nasional, rusaknya sumber daya manusia Indonesia, dan lain-lain.
E. MASUKNYA IPTEK DAN BUDAYA ASING SERTA CARA MENYARINGNYA
Bangsa Indonesia dewasa ini tengah dalam masa transisi, yakni dri masyarakt berkembang menuju ke masyarakat industri, melalui proses pembanginan sebagia usaha meletakkan dasar masyarakat modern.
Dalam menyaring masuk modal, iptek, dan keterampilan akan terserap pula nilai-nilai sosial budaya dari luar yang belum tentu sesuai dengan nilai budaya Indonesia. Oleh karena itu harus menyaring nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan kepribadian kita dalam proses menuju masyarakat modern, dan kau tidak disaring sumber daya manusia Indonesia pun tidak akan maju dan akan terus dan terus bertahan dalam kondisi yang tidak sesuai dengan kemajuan zaman yang ada di dunia. Proses penyesusain biasanya disertai dengan kerawanan sosial karena nilai-nilai lama mulia ditinggalkan., dan nilai yang baru belum melembaga. Oleh karena itu, di sisnilah letak pentingnya pemasyarakatan pembudayaan nilai moral agama, hukum, kesusilaan, dan pengamalan Pancasila dalam menuju masyarakat modern agar tetap berkembang di atas kepribadian bangsa dan tetap memiliki ketakwaan yang tinggi.
Seperti yang telah dijelaskan di depan bahwa dengan penerapan iptek dari luar, langsung atau tidak akan terbawa pulu nilai-nilai sosial budaya dan politik dar luar ke Indonesia. Hadirnya teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat dalam masyarakat dapat menimbulkan perubahan, perubahan dalam masyarakat yang menyangkut masalah kepribadian kita. Untuk itu, nilai-nilai budaya yang masyk kita seleksi dan saring terlebih dahulu dengan cara sebgai berikut.
1. Kesetiaan Kepada Ideologi Nasional (Pancasila)
Kesetiaan kepada ideologi nasional (Pancasila) sangat diperlukan untuk menghadapi nilai-nilai budaya maupun politik dari luar, lebih-lebih komunisme ataupun liberalsme dengan segala akibat. Yang antara lain dapat menghancurkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak mematuhi Pancasila karena adanya budaya asing masuk ke Indonesia tanpa disaring terlebih dahulu, makanya diperlukan kesetian kepada ideologi nasional perlu diterapkan.
2. Mengembangkan Sifat Kekeluargaan dan Kegontongroyongan
Dengan makin majunya iptek sadar atau tidak, mendorong manusia menjadi egois, kurang rasa solidaritas/kesetiakawanan sesamanya. Untuk itu, perlu dikembangkan sifat kekeluargaan dan kegontongroyongan. Kalau tidak, kita nanti bisa menjadi bangsa yang maju tetapi berjiwa egois-indivdualistis. Kalau ini yang terjadi jelas tidak membahgiakan bagi kita semua, sebab manusia akan bahagia ika semua unsur/potensi yang ada pada manusia itu berkembang secara selaras, serasi, dan seimbang dan juga meningkatkan sumber daya manusia Indonesia semakin maju dan terus berkambang dari hari ke hari.
3. Menggali dan Mengembangkan Nilai Seni Budaya dan Norma-Norma Yang Berlaku dalam Masyarakat
Arus globalisasi yang didukung iptek tinggi menjadikan kegiatan atau pertunjukan karya seni budaya bangsa lain dalam waktu bersamaan atau relatif singkat dapat disaksikan atau dinikmati oleh seluruh laisan masyarakat Indonesia. Akibatnya apa yang ditunjukan atau ditampilkan baik orangnya, pakainnya, ceritanya atau aktingnya mudah ditiru oleh warga masyarakat kita sebagia mode.
F. MENGEMBANGKAN INDONESIA BERLANDASKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAN
Apabila ditinjau dari segi kualitas, kemajuan, dn kesejahtraan rakyat, negara-negara di dunia sekarang ini dapat dikelompokan menjadi negara maju (industri), negara sedang berkembang (belum maju), dan negara terbelakang miskin).
Indonesia termasuk negara yang sedang berkembang.tentu saja dalam waktu yang tidak teralu lama diharapkan telah daat mengejar ketinggalan dengan negra-negara maju lainnya.
Dikaitkan dengan agama, teknologi, dan modal (dana), pengalaman menunjukan dan beberapa negara setelah menjadi negara maju (industri), mereka mninggalkan agama dan menjadi penghamba materi. Akibatnya mreka tetap tidak bahagia. Sebaliknya ada juga beberapa negara yang terbelakang, mereka dalam membangun tidak didukung oleh ipetk dan dana. Aibatnya pembangunan tidak dapat berjalan dan kesejahtraan rakyat sulit diwujudkan.
Memebangun sumber daya manusia dan masyarakat yang adil, makmur,, dan modern yang tetap berkepribadian Indonesia, harus didasarkan kepada.
2. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupaan moral yang melandasi segala aktvitas setiap manusia Indonesia. Dari kondisi ini diharapkan akan lahir manusia-manusia Indonesia, yang bermental pembangunan, suka bekerja keras, dan jauh dari semua perbuatan dosa atau terkutuk. Dengan keadaan seperti tu, semua potensi yang kita milki seperti sumber daya manusia, dana, dan kekayaan lain baik yang masih potensial maupun efektif dapat sebesarnya-besarnya dikerahkan untuk pelaksanaan dan kelancaran pembangunan.
Dlam hubungan ini patut kita renungkan, bagaimana kalau suatu bangsa itu pintar, tetapi tidak beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bisa jadi kepintarannya itu hanya untuk menuruti nafsunya, bukan untuk kesejahtraan umat manusia.
3. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Penguasaan Iptek
Kita sadar bahwa sumber daya alam itu terbatas. Apabila kita terlalu menggantungkan pada potensi tentu saja akan banyak mendapatkan kesulitan untuk masa yang akan datang. Berbeda dengan sumber daya manusia, potensi ini di samping idak terbatas, bila ditingkatkan kualitasnya, maka sangat mendukung bagi kemudahan dan kesejahtraan hidup manusia itu sendiri.
Dengan berbekal keterampilan dan iptek, manusia dapat mengolah potensi alam yang serba terbatas seefektf da seefisien mungkin untuk kesejahtraan hidupnya.dala hal ini kita bisa belajar dari pengalaman Jepang. Mengapa Jepang dalam perang dunia ke II dulu hancur, tetapi sekarang hasil industrinya merajai dunia? Jawabnya adalah Jepang berhasil membangun manusia-manusianya menjadi manusia berkualitas dan bermentalkan pembangunan.
Ditanamkan sikap mental manusia yang berkuaas, antara lain sebagia berikut.
a. Responsibility (rasa tanggun jawab) yang meiputi:
1) disiplin prilaku,
2) disiplin administrasi,
3) disiplin operasional, dan
4) disiplin konsepsual.
b. Willingnes to do more (kesediaan berbuat manfaat yang lebih banyak). Maksudnya iaah adanya kerelaan berkorban yang besar bagi setiap oarang Jepang untuk kepentingan bangsa dan negara.
c. Group Consciousness ( kesadaraan bersama atau perasatuan dan kesatuan). Maksudnya adalah kesadaran hidup berbangsa dan bernegara. Atas dasar kesadaran demikian mereka mempunyai tanggung jawab untu menymbang apa saja yang dimilikinya demi kemajuan dan kesejahtraan besama. Karena panggilan bangsa seperti ini daat membangkitkan semangat belajar mereka sangat tinggi. Ha inilah yang sangat mendukung berhasilnya pembangunan di Jepang.
Berdasarkan pengalaman Jepang tersebut, kita mncoba mengambi hikamahnya. Untuk itu, harus berjuang sekuat tenaga agar dapat segera mengejar ketinggalan dan memajukan sedikt demi sedikit sumber daya manusia Indonesia.
G. PEMBANGUNAN NASIONAL DALAM ERA GLOBALISASI
Dalam GBHN 1999 dikatakan bahwa Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Dalam pelaksanaanya mengacu pada kepribadaian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, dan kukuh kekuatan moral dan etiknya.
Untuk melaksanakan pembangunan nasional, kesetiaan warga terhadap pembangunan bangsasangatlah penting dan dari wargalah datangnya sumber daya manusia jadi tanpa kesetian di dalam sumberdaya manusia maka pembangunan nasional di dalam era globalisasi. Dan sebab tanta kesetian warganya mustahil program-program pembangunan dapat berjalan dengan lancar. Dari macam aneka tersebut peritiwa-peristiwa dalam sejarah perjuangan bangsa kta dapat menagkap pesan penting tentang kesetiaan terhadap bangsa dan negara.
Alasan bangsa Portugal dan Belanda serta Jepang dapat menjajah bangsa kita sedikit banyak juga bersumber pada kurangnya kesetiakawanaan soasial di antara sesama bangsa kita. Hal ini nampak dari perjuangan yang pada awanya masih bersifat kedaerahan ataupun kelompok-kelompok belaka. Lebih dari itu, ternyata juga ada di antara bangsa kita yang justru membantu pihak penjajah dan memusuhi sesama bangsanya sendiri. Ketika perjuangan kemudian dilaukan dengan menyatukan seluruh potensi bangsa yang ada, maka kemerdekaanpun dapat kita capai bersama dan pada masa itu sumber daya manusia kita dapat bekerja sama dan saling setia satu dengan yang lain.
Pada tahun 1965, kesetian dan kesetiakawanan sosial sebagian rakyat Indonesia sebagian rakyat indonesia luntur. Gal ini ditandai dengan meletusnya G-30-S/PKI. Pritiwa itu, selain merusak persatuan-persatua bangsa, traumanya juga masih diraskan oleh sebagain rakyat Indonesia sampai sekarang ini sebagau pengalaman traumatis.
Disamping itu alasan kesejahtraan semacam itu, pentingnya mengembangkan kesertiaan dan kesetiakawanan sosial terhadap masyarkt, bangsa, dam negar Indonesia dapat dilihat dari kecendrungan perkembangan masa kini dan masa mendatang. Dalam era globalisasi dan dalam rangka perwujudan pasar bebas ASEAN (AFTA) mupun PEC bangsa kita kan menghadapi banyak tantangan terutama kepada sumber daya manusia Indonesia karena inti dari pembangunan nasional dalam era globalisasi adalah sumber daya manusia, apabila sumber daya manusia Indonesia terpengaruh dengan adanya era globalisasi maka akan terjadinya kemerosotan sosial, tidak adanya keetiaan dan kesetiakawanan, dan lain sebaginya.
Dalam era globalisasi, kita harus waspada terhadap berbagi bentuk penjajahan yang tersembunyi baik bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam.
Penjajahan itu, misalnya, tampak dalam ketaklukan kita untuk mengikuti pola hidup yang menjunjung tinggi konsumerisme dan sekularisme. Kondisi seperti itu akan membawa tantangan tersendiri bagi rasa kebangsaan atau nasionalisme serta sumber daya manusia bangsa kita.
H. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Ilmu mencangkup bidang pengetahuan yang luas. Ilmu berurusan dengan fakta yang teoritis dan merupakan hubungan-hubungan antarfakta tersebut. Istilah imu sering dipadankan dengan scince yanhg berasal dari bahasa latin scientie (pengetahuan), sedangkan teknlogi mengcu kepda segenap upaya manusia menempuh penmuannya untuk mmnuhi kbutuhannya. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknolog pembangunan jelas dapat meningkatkan produksi dalam berbagia sektor dan mengkatkan sumber daya manusia. Peningkatan hasil produksi membawa pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memegang peranan yang sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap peningkatan sumber daya manusia (SDM).
Perkembangan pnerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) jelsa mmberi manfaat yang besar bagi manusia. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan sumber daya manusia Indonesia. Dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi jumlah jenis barang yang diproduksi akan lebih banyak dan beragam dengan kualitas yang lebih baik dan terjamin. Begitu pula pelayanan terhadap konsumen akan lebih lancar dan efisien.
Penerapan iptek daam pembangunan selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif. Dampak positif antar lain meningkatkan hasil produksi, menghemat waktu, tenaga, dan meningkatkan kwalitas sumber daya manusia Indonesia. Sedangkan dampak negatifnya adalah terjadi pncemaran udara,rusaknya lingkungan, terganggunya ekosistem ,dan sumber daya alam. Oleh karena itu, penerapan iptek dalam pembangunan mutlak diperlukan, namun harus tetap memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kelestarian lingkungan hidup.
Kalau tidak ada sumber daya manusia yang berkualitas dan bermutu tinggi tdak mungkin bangsa indonesia akan menggunakan iptek dan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dan berkembang di dunia.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan tekologi (iptek) setiap negara untuk kesejahtraan, dan kemakmuran bangsa serta meningkatkan sumber daya manusia. Begitu pula indonesia sebagia negara berkembang menuju negara yang maju harus mampu menguasi iptek dalam berbagai bidang agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di era globalisasi sekarang dengan cara mengasah dan meningkatkan sumber daya manusia Indonesia dari berbagai bidang agar bangsa Indonesia menjadi negara yang maju.
I. PEMANFAATAN SUMBER DAYA MANUSIA
Pemerintahan mengadakan kbijksanaan dengan menuntut kepada para pengusaha untuk melindung dan mnghgai hak-hak serta kewajiban para pekerjanya. Dalam hubungannya sumber daya manusia dengan industri, ada hal-hal yang prlu diperhatikan yaitu sebagi berikut.
1. Lembaga ketenagakerjaan
Tugas lembaga ketenagakerjaan adalah pelaksana hubungan perburuhan pancasila (hubungan industri Pancasila) dan mngadakan brbagai macam pendidikan dan keterampilan untuk meningkatkan mutu tenaga kerja.
2. Perjanjian Perburuhan
Kesepakatan keraja bersama (KKB) antara buruh dan pengusaha dalam bidang industri perlu dilaksanakan agar tidak menimbulkan permasalahan.
3. Keselamatan kerja
Peraturan tentang keselamatan kerja brtujuan untuk mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan pencemaran lingkungan hidup.
Langkah-langkah keselamtan kerja antara lain:
a. pembentukan dewan keselamatan kerja dengan anggota: Pemerintah, Kodim, SPSI (serikat pekerja seluruh Indonesia).
b. Pembentukan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja di tingkat perusahaan dengan anggota pihak pekerja dan pengusaha.
c. Adanya pengawasan perburuhan.
d. Penyediaan wisma-wisma para pekerja.
e. Program bekerja sambil belajar (kejar), bagi yang buta huruf.
f. Diadakan penggujian lingkungan kerja (Hyperkes = hygiene perusahaan dan kesehatan kerja).
4. Pengaturan Pengupahan
Pengaturan pengupahan dalam industri diusahakan secara tepat dan bijaksana. Dalam pengaturan pengupahan ini, pemerintahan juga ikut bertanggung jawab dan direalisasikan dalam penentuan upah minimum regional (UMR).
5. Jaminan Sosial
Untuk melaksanakan jaminan sosial didirikan perusahaan Umum Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK), diadakan jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek), dan tabungan hari tua (THT).
J. FAKTOR YANG MENENTUKUKAN PEMBANGUNAN
Salah satu faktor yang menentukan pembangunan adalah sumber daya manusia, baik sebagai subjek maupun sebagai objek pembangunan. Sebagai subjek pembangunan maka peranan sumber daya manusia sangat penting dalam menghasilkan barang dan jasa dalam kurun waktu tertentu. Tingkat produktivitas SDM dapat di tentukan dari hal-hal sebagi berikut:
a. Cara sumber daya manusia diorganisasi dalam kelembagaan seperti milik swasta, milik masyarakat, milik negara.
b. Pola Imbalan materrial sepertio bagi hasil dan nirmaterial seperti tanda penghargaan atau prestasi kerjanya.
c. Teknologi yang dipakai dalam menghasilkan barang dan jasa.
d. Pemanfaatan dalam komposisi pengembangan di berbagai sektor produksi.
e. Perlakuan atasdiri manusia dengan mengindahkan martabat manusia.
Pembangunan kebudayaan Indonesia, kebudayaan nasional diarahkan untuk memberikan wawasan budaya dan makna pada pembangunan nasional dan salah satu dari pengembangan SDM, ada beberapa unsur dalam membangun budaya nasional, seperti diuraikan berikut ini:
a. pengembangan kebudayaan bangsa
b. Pembangunan Budaya nasional
s. Pembauran
d. Pembinaan bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahas asing
f. Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan dan keaarsipan
g. Pengembangan dan Pembinaan Kesenian
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Di dalam era globalisasi sumberdaya manusia sangat enting untuk kemajuan bangsa Indonesia kedepannya dan menuju kepada negara yang maju dan meninggalkan nebara berkembang.
Tapi di era globalisasi ini banyak sekali tantang bagi bangsa indonesia untuk meningkatkan sumber daya manusia karean di era globalisasi banyak sekali pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia. Dan di globalisasi ini juga diperlukan adanya kesetiaan, kesetiakawanan, disiplin, berjaka sama, menghargai waktu, dan lain sebagianya yang berfungsi untuk mendidik sumber daya manusia Indonesia agar rajin, bersemangat, pintar, disiplin, dan lain sebgainya.
DAFTAR PUSTAKA
- Abubakar, Suardi, dkk. 2002. BUKU PPKN KELAS 3 SMU. Jakarta: Yudhistira.
- Thamiend R, Nico dan Manus, M.P.B. 2002. BUKU SEJARAH KELAS 3 SMU. Jakarta: Yudhistira.
- Suteng S, Bambang, dkk. 2000. BUKU PPKN KELAS 2 SMU. Salatiga: Erlangga.
- Wardiyatmoko, k. 2000. BUKU GEOGRAFI KELAS 2. Jakarta: Erlangga.
- Simanjuntak Posman,2003. BUKU ANTROPOLOGI KELAS 3 SMU.. Jakarta: Erlangga.
- Wardiyatmoko K & Bintarto H.R, 2000. BUKU GEOGRAFI KELAS 1 SMU. Jakarta: Erlangga.
- Hamalik Dr. Oemar, 2001. PENGEMBANGAN SDM MANAJEMENPELATIHAN KETANAKERJAAN PENDEKATAN TERPADU. Jakarta: PT Bumi Aksara.
- Notoatmodjo DR. Soekidjo, 1991. PENGEMBANGAN SDM. Jakarta: Rineka Cipta.
- Badrika I Wayan, 2000. BUKU SEJARAH KELAS 3 SMU. Jakarta: Erlangga
- Ritongga, dkk, 2003. BUKU EKONOMI KELAS 3 SMU. Jakarta: Erlangga
Selengkapnya...
masalah tentang aurat
sBAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sejak awal dikenal manusia, pakaian lebih berfungsi sebagai penutup tubuh daripada sebagai pernyataan. Lamabangn status seorang dalam masyarakat. Sebab berpakaian ternyata memang merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yang mempunyai rasa malu sehingga selalu. Berusaha menutupi tubunhya. Oleh karena itu, betapapun sederhananya kebudayaan suatu bangsa, usaha menutupi tubuh dengan pakaian itu selalu ada, walaupun dalam bentuk seadanya tetapi lebih baik ditutupi dengan baik agar aurat kita tidak kelihatan oleh orang lain.
Sebagai agama universal, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, merupakan suatu system hidup yang lengkap, yang senantiasa memberikan pedoman kepada umatnya mulai dari selasar paling dasar hingga terletak paling puncak. Oleh karena itu, Islam bukanlah suatu agama yang terbatas dalam kehidupan pribadi, yang mata-mata mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, sebagaimana konsepsi agama-agama selain Islam; melainkan memberikan pedoman hidup yang utuh dan menyeluruh.
Berhubungan dengan masalah pakain, maka di dalam makalah ini saya membuat tentang msalah menutup aurat. Dan untuk lebih lanjutnya ada pembahsannya tersendiri di dalam
BAB II
PEMBAHASAN
A. PANDANGAN ISLAM TENTANG PAKAIAN
Dalam mengajak umat manusia kepada ajaran-ajaran yang dibawanya, Al-Qur’an tidak jarang membentuk duplikasi maupun repetisi untuk ungkapan-ungkapan yang harus mendapat perhatian, sehingga tidak jarang Al-Qur’an menggunakan kata-kata untuk konsep yang artinya hampir sama (sinonim). Demikianlah misalnya agar manusia mengambil pelajaran dan hikmah dari umat-umat yang telah lalu. Dan dalam masalah pakaian, Al-Qur’an tyidak menggunakan satu istilah saja, tetapi juga mengunakan yang bermacam-macam sesuai dengan konteks kalimatnya. Pertama-tama kita akan bertemu dengan istilah Al-libas (bentuk jamak dari kata al-lubsu), yang berarti segala sesuatu yang menutup tubuh. Kata ini tercantum dalam al-Qur’an sebanyak sepuluh kali (dalam delapan ayat). Kemudian istilah laian yang sering dipergunakan oleh Al-Qur’an untuk menujukan pakaian ialah At-tsiyab (bentuk jamak dari kata al-tsaubu), tercantum samapai delapan kali; dan al-sarabil tercantum samapai tiga kali (dalam dua ayat).
Contoh dari kata al-libas di dalam ayat Al-Qur’an pada surah al-a’raf ayat 26 yang berbunyi :
Artinya: “Hai anak adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa (libas al-taqwa) itulah yang paling baiak. Yang demikian itu adalah sebagaian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (QS Al-A’raf: 26).
Contoh ayat dari kata Al-tsiyab:
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalinghkan dada merekai untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kaian (pakakain) . Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, adan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah Maha Mangetahui segala isi hati”. (QS Hud : 5).
Contoh ayat pada kata Al-sarabil:
Artinya: “Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka”. (QS Ibrahim: 50).
Adapun yang dimaksud dengan pakaian itu sendiri dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang kia pakai mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Di dalam hal ini ter,asuk:
Semua benda yang melekat di badan, seperti baju, celana, sarung, dan kaian panjang’
Semua benda yang melengkapai pakakain dan berguna bagi si peeiliknya.
Semua benda yang gunanya menambah keindahan bagi si pemakainya.
B. FUNGSI PAKAIAN
Allah SWT. telah berkenan menganugrahi manusia dengan pelbagai nikmat karunia yang tiada terhinga nilanya. Asalah satunya karunia yang tiada terhingga nilainya. Salah satu bentuk nikmata yang dianugrahkan-Nya itu adalah mengajarkan kepada manuasia pengetahuan untuk berpakaian.
Allah SWt berfirman:
Artinya: ”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”. (QS Al-A’raf: 26).
Ayat di atas menjelaskan dua fungsi pakaian; (a) sebagai penutup aurat; dan (b) sebagai perhiasan. Dengan demikian fungsi pertama dan untama dari pakaian adalah sebagai penutup aurat. Kata aurat adalah perkataan arab”awrah, yang oleh Al-Tsabili didefinisakan sebaga “kullu ma yustahya min kasyfihifa huwa ‘awrah” (segala sesuatu yang memalukan karena terbukanya, disebut aurat. Sedangkan menurut istilah aurat adalah bagaian tubuh yang perlu ditutup atau bagaian tubuh itu jelas dan tegas batas-batasnya: pada laki-laki mulai dari pusar samapai ke lutut, sendangkan perempuan adalah semua anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan sampai pergelangan.
Fungsi pakaian yang ke dua adalah sebagai perhiasan untuk memperindah spenampilan di hadapan Allah dan sesama manusia. Inilah fungsi estetika brpakaian. Sebagai perhiasan, sesorang bebas merancang dan membuat bentuj atau mode serta warna pakaian yang dinggapinadahdan menarik serta menyenangkan selama tidak melampaui batas-batas yang telah dittapkan.
Di dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman tentang pakaian dan berhias yang berbunyi:
Artinya: “Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”(QS.Al-A’Raf:32).
Selain dari dua fungsi tersebut masih ada fungi pakaian yaitu untuk memenuhi syarat keshatan, kenyaman, dan keamanan, seperti melindungi badan dari gangguan luar(baik terik matahari, udara dingin dll.)
C. BATASAN-BATASAN AURAT LAKI-LAKI
Islam telah mentapkan aurat laki-laki anara pusat sampai lutut. Mereka diperntahkan untuk tidak membuka aurat di hadapan orang lain, dan dilarang pula melihat aurat orang lain dengan disengaja, kalau tidak sengaja hanya boleh melihat cukup sekali dan selebihnya haram hukumnya melihat itu lagi.
Abu Ayub al-Anshari meriwayatkan. Sabda Rasulullah SAW:
ﺓﺭﻭﻌﻠﺍ ﻥﻣ ﺓﺭﺴﻠﺍ ﻥﻣ ﻞﻔﺴﺍﻮﺓﺭﻮﻌﻠ ﺍﻥﻣ ﻥﻳﺘﺑﮎﺭﻟﺍﻕ ﻥﻣ
Artinya: “Aurat laki-laki adalah di anatar pusat lutut dan bawah pusat.” (HR Daraqutni).
Ali bin Abu Thalib meriwayatakan, Rasulullah Saw bersabda:
ﺖﻳﻣ ﻻﻮ ﻲﺣ ﺬﺨﻔ ﻰﻟ ﺍﺭﻅﻧﺗ ﻻﻮ ﻚﺫﺨﻔ ﺯﺮﺒﺘ ﻻ
Artinya: “Jangan kau menampakan pahamu, dan jangan melihat ke paha orang hidup atau mati.” (HR Abu Daid dan Ibnu Majah).
Aturan ini bersifat umum, dengan perkecualian sang istri. Dalam satu hadits disebutkan:
ﻚﻧﻳﻣﻳ ﺕﮐﻠﻣﺎﻣ ﻮﺍﻚﺘﺠ ﻭﺯ ﻥﻣ ﻻﺍ ﻚﺘ ﻮﻋ ﻇﻓﺤﺍ
Artinya” “Jagalah auratmu, kecuali dari istrimu dan budak perempuanmu”. (HR.Muslim, Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majah).
Karena aurat laki-laki hanya dari pusar sampai lutut maka pakaiannya pun lebih sederhana di bandingkan dengan pakaian perempuan.
D. BATASAN AURAT PEREMPUAN
Batas-batas aurat wanita lebih luas ketimbang aurat laki-laki. Setiap wanita diwajibkan menutup seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan, dari pandangan laki-laki bukan muhrim. Mereka tidak dilarang menampakan zinat (perhiasan)nya kepada beberapa orang golongan lelaki dan wanita,
Perempuan dalam pandangan Islam adalah insan yang memiliki kedudukan spesifik disebabkan struktur jasmaninya yang lebih seduktif dibandingkan dengan kaum pria. Seluruh tubuh perempuan’ kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan adalah aurat. Surat An-Nur ayat 31 menunjukan bahwa seluruh tubuh perempuan itu adalah aurat, keguali yang biasa kelihatan atau biasa tampak daripadanya (illa ma Zhahara minha). Para ulama sepaka bahwa ayat ini termasuk dalil qath’iyyah dan bukan amaslah khilafiyyah sebagaimana anggapan orang sekarang ini. Perbedaan pendapat hanyalah terletak dalam mndefinisikan illa ma zhahara minha.
Menurut bberapa hadits, perhiasan zahir (yang boleh diperlihatkan) itu adalah wajah (temasuk celak mata), telapak tangan hingga pergelangan tangan (berikut cincin di jari dan pacar pada kuku), dan pakaian:”perhiaasan zhahir itu adalah muka, celak mata, bekas pacar di tangan dan cincin”. (HR Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas). Menurut Tafsir Khazin, Ibnu Mas’ud menerangkan bahwa “kecualai apa yang zhahir itu adalah pakaian”.
Menurut mazhab Maliki dan Hanafi, wajah dan telapak tangan perempuan tidak ternasuk aurat atau bagian tubuh yang perlu ditutup. Hal ini sejalan dengan pernyataan Nabi Muhammad Saw. Kepada Asma binti Abu Bakar,: “Hai Asma! Sesungguhnya seseorang perempuan apabila telah cukup umur (sudahj sampai dating bulan), tidak pntas terlihat tubuhnya kecuali ini, seraya Rasulullah Saw. Menunjukan (mengisyaratkan) muka dan telapak tangannya”. (H Abu Daud dari Aisyah r.a.).
Sedangkan menurut Mazahab Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa wajah dan keduatelapak tangan pun ter,asuk aurat, karena yang dimakasud dengan illa zhahara minha dalam surah an-Nur ayat 31 nitu adalah anggota tbuh yang terbuka tanpa sengaja, seperti jika terhembus angin. Tafsiran yang paling benar tentang ayat illa zhahara minha adalah kata-kata itu berarti muka dan tangan dan mencangkup pula celak mata, cincin, gelang, dan cat kuku. Hal ini dikatakan paling benarkarena memang ada pendapat dari ijma’(kesepakatan para ulama). Bahawa wajib bagi pria yang menjalankan shalat supaya menutup semua bagaian tubuh yang disebut aurat, demikian pula bagi perempuan yang menjalankan shalat, untuk menutupi semua bagaian tubuhnya, kecuali muka dan tanganya; sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Bahwa kaum perempuan diperbolehkan membuka separoh pergelangan tanganya. Jika telah ada kesepakan tentang itu mka tak perlu diragukan lagi, bahwa kaum perempuan tetapa diperbolehkan membuka bagaian tubuh yang tidak ternasuk aurat tidaklah diharamkan. Itulah yang di maksud dengahn kata-kata illa zhahara minha. Dan diperbolehkan bagi perempuan membuka kerudungnya di dalam rumah dan boleh menampakkan di hadapan suami dan kerabat dekatnya selama ia dalam berpakaian yang pantas dan wajar.
Mereka tidak dilarang menampakan zinat (perhiasan)nya kepada beberapa orang golongan lelaki dan wanita,
Dari kalimat “kecuali yang (biasa) tampak darinya”, pada ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa zinat wanita terbagi menjadi dua yaitu:
1. Zinat yang tampak dan boleh ditampakkan.
2. Zinat yang tak tampak dan memang dilarang menampakannya.
Adapun yang boleh meliahat keindahan tubuh seorangperempuan ada 12 kelompok, meraka itu adalah:
1. Suami: diperbolehkan melihat dan memandang segala sesuatu yang dimiliki istrinya baik ia melihatnya dengan sayahwat maupun tidak dengan syahwat.
2. Ayah: ayah kandung istri.
3. Ayah suami: mertua laki-laki.
4. Putra-putra mereka: anak laki-laki kandung mereka
5. Putra-putra suami mereka: anak laki-laki tiri.
6. Saudara laki-laki: saudara laki-laki mereka adalah kaka atau adik laki-lai, baiak sekandung (seibu sebapak), seibu saja, atau sebapak saja.
7. Putra-putra saudara laki-laki: anakn laki-laki dari kakak atau adik perempuan, baik kandung, seibu saja, atau sebapak saja.
8. Putra-putra saudara perempuan: anak laki-laki dari kakak atau laki-laki. Baik sekandung, seibu saja, atau sebapak saja.
9. Perempuan-perempuan: perempuan Muslim.
10. Budak-budak yang dimiliki.
11. pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keingnan terhadap perempuan.
12. anak-anak yang belum tahu tentang aurat perempuan.
E. JILBAB
Dalam kahzanah kosakata bahasa Indonesia kiwari istilah yang lebih popular untuk busana muslimah adalah jilbab. Kata ini belum terdaftar dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. Susunan Poerwadarminta, namun sekarang sudah tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia susunan Tim Penyususn Kamus Pusat Pembinaan da Pengembangan Bahsa dan Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain. Secara etimologis, kata jilbab bersal dari bahasa arab dan bentuk jamaknya jalabib tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzb ayat 59. Di kalangan bangsa Arab sebelumIslam, maksudpemakain jilbab berbeda-beda. Tetapai pada umumnya perempuan yang berjilbab dipandang sebagai perempuan yang merdeka, sehingga mereka tidak akan di ganggu tau diikuti oleh laki-laki yang mempunyai keinginan jahat, walaupun jilbab pada masa itu hanhya menutupi kepala dengan rambut yang masih tetap terlihat. Namun sekarang banyak kita lihat benyak sekali perempuan-perempuan yang memakai jilbab tetapi pakaiannya serba ketat sehinga auratnya kelihatan oleh orang lain dan jilbab hanya dijadikan sebagai topeng belaka agar mereka di segani oleh orang-orang. Oleh karena itu, beberapa criteria yang dapat dijadikan standar mode busana muslimah berikut ini, tampaknya prlu diperhatikan:
Bagian tubuh yang boleh kelihatan hanya wajah dan telapak tangan (sampai pergelangan)
Tekstil yang dijadikan bahan busana tidak tipis atau trasnparan (tembus pandang), karena kain yang dengan demikian akan mmperlihatkan bayangan kulit secara remang-remang.
Modelnya tidak ketat, karena yang ketat akan menampakkan bentuk tubuh terutama payudara, pngang, dan pingul. Pergunakanlah potongan yang longgar agarlebih sehat, dan memberi keleluasaan bagi otot untuk bergerak.
Tidak menyerupai pakaian laki-laki. Bila ke bawahnya mau mmakai celana panjang, sebaiknya bus lebih menurun sehingga menutup setengah paha.
Bahasnya, juga sebaiknya modelnya, tidak terlalu mewah dan berlebihan atau menyolok mata, dengan warna yang aneh-aneh hingga menarik perhatian orang. Apalagi jka samai menimbulkan rasa angkuh dan sombong.
Di dalam surah Al-Ahzab Allah Swt berfirman:
Artinya: ” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [1233] ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS Al-Ahzab: 59).
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bahwasanya sangatpenting kita untuk menutu aurat kita baik laki-laki maupun perempuan terutamanya perempuan. Karena apabila kita mnampakkan atau melihatkan aurat kita secara sengaja kepada orang lain maka kita akan terkena dosa. Allah melarang kita untuk tidak berbuat maksiat kepdanya, salah satunya janganlah kita menampakkan aurat kita. Dan Islam pun telah mentapkan batasan-batasan untuk laki-laki dan perempuan. Seperti halnya laki-laki batas auratnya antara pusat sampai lutut. Sedangakan perempuan yang kelihatanya hanya muka dan telapak tangang. Apabila ada seorang perempuan keluar rumah tanpa memakai pelindung atau jilbab maka Allah akan membuatkan rumah di neraka na’ujubillah. Serta berpakaianlah yang sopan dan rapi, dan apabila kita sebagai perempuan yang memakai jilbab jangan terlalu menampakkan aurat kita maksud janganlah memakai pakaian yang terlalu ketat dan tipis atau seksi.
B. SARAN
Bagi kaum perempuan janganlah kalian memaka pakaian yang tidak disuakai oleh allah Swt. dan jangan memakai pakaian yang terlalu ketat, tipis dan seksi, agar tidak menimbulkan fitnah dan terlepas dari tindak kejahatan kaum pria yang berhidung belang. Dan ingatlah yang paling banyak masuk neraka nantinya adalah perempuan. Dan yang hanya bisa membuat orang hacur adalah Harta, Tahta, dan Wanita.
DAFTAR PUSTAKA
- Surtiretna Nina, et al, Anggun Berjilbab, Al-Bayan, Bandung:1995.
- Shahab Huisein, jibab menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Mizan, Bandung: 1986.
- Hassan, A, Jilbab, Lajnah Penerbitan Pesantren Persis Bangis (LP3B), Bangil
Selengkapnya...